Sabtu, 24 September 2011

Cara Menilai Karakter Seseorang

Gimana ya cara cepat menilai kepribadian ato karakter orang yang baru kita kenal?

Yang harus diperhatikan adalah gerak tubuh, karena hal ini diatur oleh alam bawah sadar yang cenderung berpengaruh besar pada penciptaan karakter seseorang.

Sedangkan, raut muka, dapat diciptakan, dan berubah kapan saja, sesuai dengan keadaan seseorang, karena hal ini adalah reaksi akibat aksi yang diterima oleh fungsi saraf yang sadar.
contoh; pada saat si A tersenyum kepada si B dan keadaan si B sedang jengkel, si B tidak mungkin tersenyum.lalu, si C melihat kejadian tersebut.

pertanyaan: apakah kita dapat katakan bahwa si B itu bukan orang yang ramah ?? sedangkan kita gak tahu, mungkin si B baru saja di pecat dari pekerjaannya...

pertama, kalau kenalan dengan orang,(posisi berdiri) lihat bagaimana berdirinya... dia terlebih dahulu atau anda terlebih dahulu yang menjulurkan tangan?
kalau dia yang duluan, dan kaki kanannya maju/ badannya maju ke hadapan anda(menjorok kedepan), dan menggenggam tangan anda dan anda merasakan genggaman tangannya melemahkan anda (dalam arti anda merasa di dominasi, *kita semua bisa merasakannya)
berarti dia itu orangnya cenderung agresif, ekstrovert (bersifat terbuka), biasanya dia memiliki sifat sanguinis populer dan koleris yang kuat (periang, ceria, dominatif, optimis, dan mudah bergaul)

jika sebaliknya, anda yang menjulurkan tangan duluan sampai full tangan anda menjulur kedepan,baru dia menjabat tangan anda, dan pasti anda lihat posisi kakinya tidak berubah dimana dia berpijak, lalu anda rasakan jabatan tangan anda sama kuat, bearti dia cenderung introvert (menutup diri) biasanya orang tersebut memiliki karakter utama melankolis yang sempurna (tidak mudah cepat percaya orang, tidak suka keramaian, cenderung pemurung), dan koleris yang kuat

jika anda yang menjulurkan tangan duluan sampai full tangan anda menjulur kedepan,baru dia menjabat tangan anda, dan pasti anda lihat posisi kakinya (kadang berubah,terkadang tidak berubah,tetap dimana dia berpijak) lalu anda rasakan jabatan tangan anda lebih kuat, dan pada waktu berjabat tangan , dia menggerakan badannya, bisa anggukan kepala, bisa membungkukan badan, (gerakan apapun yang berarti untuk kesopanan) berarti dia cenderung memiliki karakter phlegmatis yang damai (menghindari masalah, cenderung ekstrovert/ membuka diri, dapat bergaul dengan siapa saja)

ini hanya tiga contoh yang cenderung acapkali terjadi pada saat perkenalan dengan seseorang.

Berkenalan pada saat duduk, dan anda dalam keadaan berdiri.

dia berdiri, dan menjabat tangan anda dengan kuat... sama seperti diatas sanguinis populer dan koleris yang kuat... yang perlu lebih diperhatikan dalam berkenalan pada posisi duduk adalah jabatan tangannya... kalau jabatan tangannya kuat dan posisi tangannya seperti ingin melahap tangan anda, atau menekan tangan anda kebawah... anda harus jaga jarak dengan orang tersebut... karena orang yang melakukan demikian , cenderung terlalu dominatif, dan tidak mau kalah, pada umumnya dalam apapun... kalau posisi ruas tangannya sama dengan anda 50-50... (posisi jabat tangan sempurna)... anda bisa berteman, ataupun berbisnis dengan dia.

dia diam duduk dan menjabat tangan anda dengan kekuatan yang biasa, dan anda rasakan sama dengan kekuatan anda...tidak ada gerakan yang banyak pada tubuhnya.. dan segera menyelesaikan jabat tangan. berarti dia itu cenderung melankolis yang sempurna, dan koleris yang kuat..

sedangkan, kalau anda merasakan pada saat berjabat tangan, dia menjabat tangan anda dengan ruas jari yang tertutup, dan masuk kedalam telapak tangan anda... maka dia cenderung phlegmatis yang damai...

saya hanya berikan hal yang simple dan mendasar...
sanguinis populer cenderung diikuti dengan koleris yang kuat
melankolis yang sempurna, biasanya diikuti dengan koleris yang kuat.
phlegmatis yang damai, biasanya berdiri sendiri, atau dapat diikuti dengan karakter melankolis yang sempurna...

adapun, sifat (bukan karaker) seperti pemalas, pemurung, rendah diri, sombong, dll. ini adalah hal lain yang merupakan penjabaran yang panjang sekali. walaupun penjabaran mengenai karakter diatas hanya sedikit sekali... tapi itulah keadaan yang pada umumnya kerap terjadi.

mengenai sikap duduk , dan cara menaruh tangan. bisa disimpulkan seperti di bawah ini:

bangku yang memiliki leher, di sebuah restoran, sedang menunggu makanan.

orang yang duduk dengan kaki lurus horizontal kebawah, dan punggung tegak lurus pada leher kursi, baik menyender pada kursi, ataupun tidak. lalu menaruh tangannya diatas kedua paha nya/meletakannya tegak lurus (vertyikal) pada meja, baik melakukan sesuatu ataupun tidak. biasanya orang ini, adalah orang yang sigap akan sesuatu, cekatan, rapih, dan memiliki percaya diri yang cukup tinggi, biasanya cenderung perfectsionis.

orang yang duduk dengan kaki mendorong kebelakang, dan membentuk segitiga, dengan punggung lurus pada leher kursi , baik menyender ataupun tidak, lalu tanggannya bergerak - gerak, kadang berada diatas paha, kadang bearda di atas meja, kadang memainkan sesuatu, atau mengerjakan sesuatu, tetapi terlihat tidak fokus.biasanya sifat umum orang ini adalah orang yang serius melakukan sesuatu, bersifat introvert, kurang percaya diri, perfectsionis.


anda mau tahu, bagaimana bisa membacanya???

orang yang duduk tegak lurus, dengan kaki lurus ke bawah, dan tangan juga teratur rapih, ini menandakan keteraturan.. seperti layaknya garis lurus yang simetris(level) anda coba pikir, tidak akan enak berada pada posisi duduk seperti itu, baik dengan punggung menyender pada leher kursi, apalagi tidak menyender. orang yang dapat bertahan duduk pada posisi tersebut adalah orang yang menyukai keteraturan, dan hal ini mengacu kepada perfectsionisme yang kemudian... dapat kita ketahui bahwa... perfectsionisme itu adalah suatu sikap yang tidak biasa... hal ini membutuhkan sesuuatu yang lebih daripada orang lain, kepintaran, keteraturan, kesabaran, kerapihan, dan tentunya percaya diri yang lebih dari orang lain... bedanya dengan yang kedua... yaitu pada posisi kaki terlipat kebelakang membentuk segi tiga, dan posisi tangan yang bergerak terus-menerus... hal ini dapat diasumsikan sesuatu yang stagnan... dan sesuatu yang stagnan itu bersifat tidak stabil... sesuatu yang tidak stabil itu gamang... jadi orang tersebut tidak stabil pada posisi duduk yang sempurna, yaitu punggung lurus dengan leher kursi, dan kaki pun lurus, sekalipun terlipat kebelakang membentuk segitiga...
adapun bentuk segitiga ini adalah sebenarnya terbentuk karena memiliki rasa tidak aman (seperti kita lakukan pada saat ketakutan, dan kedinginan) posisi tetap lurus simetris... tapi membuat suatu pertahanan, yakni dengan melipat dan menyatukan kedua tumit membentuk segitiga. sehingga dapat dikatan bahwa orang ini memiliki sifat perfectsionis, namun karena suatu faktur membuat dia merasa kurang percaya diri.

teramat banyak yang dapat dijabarkan, jika kita berbicara tentang karakter... terlebih lagi sifat. jika anda ingin tahu lebih lanjut, silahkan bertanya kepada saya, semoga Allah SWT memberikan pengetahuan itu kepada saya.



Ada banyak sekali cara yang sering digunakan oleh seseorang untuk menilai karakter dan kepribadian orang lain. Ada yang melihat dari tingkah lakunya, dilihat bagaimana sikapnya, cara berjalannya dll. Ada yang dilihat dari cara berpakaiannya, dsb. Bahkan ada yang menilai kepribadian dari rasa es krim yang disukainya. Ada lagi sebuah situs nih, namanya primbon.com. Di sana ada cara menilai kepribadian seseorang lewat tanggal lahir, ada juga yang lewat posisi tahi lalat yag ada di tubuhnya, yang aneh lagi yaitu melalui (maaf) cara kentutnya. Kebayang nggak ya, bagaimana menentukannya?
Yang aneh lagi nih, konon katanya dalam sebuah majalah wanita (saya cuma dapat cerita dan tidak baca sendiri) ada yang menilai karakter kepribadian seseorang lewat bentuk bibirnya. Kalau bibirnya tipis semua katanya kepribadiannya jelek, soalnya dia ceriwis dan suka ngomel. Kalau lebih tebal yang atas atau yang bawah katanya juga kurang baik. Lah lebih bahaya lagi kalau tebal semua, berarti habis disengat lebah. Afwan kalau ada yang seperti yang saya contohkan, ini hanya kata dalam majalah tersebut bukan kata saya.... jadi nggak usah pegang-pengang bibir segala.
Lain lagi salah satu suku di Myanmar. Seorang wanita dinilai memiliki kepribadian yang tinggi dilihat dari panjang lehernya, semakin panjang lehernya semakin tinggi kepribadiannya. Sehingga seorang anak perempuan di sana sampai dipasang sebuah gelang dari besi dilehernya. Dan setiap bertambah usianya, gelang tersebut juga ditambah. Sehingga leher tersebut dipaksa untuk semakin panjang dan panjang. Ini sangat berbahaya, karena yang memanjang bukanlah tulang lehernya tetapi karena sambungan atara tulang leher yang merenggang. Sehingga kalau gelang tersebut dilepas dari lehernya, leher tersebut bisa patah karena tidak kuat menyangga kepala.
Ada lagi cara menilai kepribadian pada salah satu suku di Afrika sana. Mereka menilai kepribadian seorang wanita dari lebar bibirnya. Jadi untuk menilai kepribadian seorang wanita mereka menarik bibir bawahnya kemudian diletakkan cowek (yang buat ngulek sambel) dibibir tersebut, semakin besar cowek yang bisa masuk kesitu maka semakin tinggi pula kepribadiannya.
Masih banyak lagi cara menilai kepribadian seseorang, dan setiap daerah banyak yang memiliki cara sendiri yang berbeda-beda. Kalau kita melihat, orang Jawa yang terkenal sikapnya lemah lembut, sehingga kalau bicara sampai muter-muter kesana-kemari. Jadi kalau mau menyampaikan sesuatu mukadimahnya saja sudah satu jam sendiri baru masuk ke inti permasalahannya yang hanya lima menit saja, karena terlalu banyak basa-basi. Beda halnya dengan orang Madura, orang Sunda, begitu juga dengan orang Batak dan suku-suku yang lain.
Lantas bagaimana cara menilai kepribadian seseorang? Adakah standar tersendiri untuk menilainya?
Kalau dalam psikologi dulu waktu saya jadi psikotester, untuk menilai kepribadian seseorang dilakukan tes kepribadian dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang macem-macem gitu. Inipun menurut saya juga tidak selalu valid, bisa jadi orang yang menjawab pernyataan tersebut mengerjakannyya secara acak dan asal pilih jawaban saja. Jadi mana mungkin kita bisa menilainya dengan benar?
Kalau kita hanya menyandarkan dari penampilan pun demikian juga, belum tentu orang yang penampilannya menawan lebih baik kepribadiannya dari orang yang biasa-biasa saja. Kita kembali melihat sejarah Islam, kamu kenal Bilal bin Rahbah? Juga kenalkah kamu dengan Mus’ab bin Umair? Kalau kita lihat secara fisik keduanya jelas berbeda. Bilal yang digambarkan sebagai seorang yang berkulit hitam, rambutnya juga tidak lurus, dia juga bekas budaknya Umayah yang dimerdekakan oleh Abu Bakar. Sedangkan Mus’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang kaya raya lagi cakep dan dermawan. Seandainya dia lewat di daerah kita, bisa jadi banyak ibu-ibu yang kecantol kepadanya. Tetapi apa kenyataannya? Mereka berdua sama-sama dijamin masuk surga.
Kita lihat bagaimana Abu Bakar dan Umar bin Al Khattab, mereka memiliki karakter yang berbeda pula. Tapi keduanya juga dijamin masuk surga. Ternyata penampilan, sikap dan tingkah laku tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kemuliaan seseorang. Apalagi hanya dengan kita melihat penampilan luarnya saja. Lantas apa yang menjadikan seseorang tinggi derajat serta kepribadiannya?
Ingatkah kita dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat yang ke 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”
Allah Azza wa Jalla tidak menilai kita dari bentuk fisik dan penampilan kita. Tetapi orang yang berkepribadian tinggi dan mulia di sisi-Nya adalah mereka yang paling takwa kepadanya. Oleh karena itu setiap hal yang ingin kita lakukan hendaklah disandarkan pada dinul Islam, yaitu dengan mendasari dan menyesuaikan setiap tindakan kita dengan Al Kitab dan As Sunnah. Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita dalam salah satu ayatnya:
“Apa-apa yang diperintahkan rasul kepadamu, maka kerjakanlah. Dan apa-apa yang dilarangnya padamu, maka tinggalkanlah.”
Tolong dicari sendiri surat apa ayat berapa? Afwan saya lupa..! J
So... ayo kita contoh apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, dalam sikap kita, pola hidup kita dan amalan kita. Caranya, belajarlah dulu sebelum beramal, ilmuilah setiap amalan yang hendak kita kerjakan. Wallahu a’lam

Kepribadian dan Penilaiannya
Konsep Dasar Kepribadian
Secara umum, ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari cara untuk membentuk tingkah laku yang baru melalui proses asosiasi. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, dan juga oleh faktor genetik yang sudah ada sejak lahir. Lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian individu, namun relatif dapat diubah dengan cara mengubah lingkungannya. Dengan begitu, terdapat salah satu cabang ilmu psikologi yang cukup penting peranannya yaitu Psikologi Kepribadian.
Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan karena banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya. Namun Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola prilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Rita and Richard, 1993).
I. Kepribadian secara Umum
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
1.1 Kepribadian Menurut Ahli Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi digunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama. Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.
Menurut Larsen & Buss (2002) kepribadian merupakan sekumpulan trait psikologis dan mekanisme didalam individu yang diorganisasikan, relatif bertahan yang mempengaruhi interaksi dan adaptasi individu didalam lingkungan (meliputi lingkungan intrafisik, fisik dan lingkungan sosial). Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian menurut peneliti adalah sebuah karakteristik di dalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Dasar penelitian tingkah laku manusia tersebut dilakukan secara objektif melalui riset dan data empiris dengan berbagai pendekatan. Pendekatan dilakukan karena kepribadian tidak dapat dinilai dengan pasti.
Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian ada dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Pervin & John, 2001).
1. Faktor genetik mempunyai peranan penting didalam menentukan kepribadian khususnya yang terkait dengan aspek yang unik dari individu (Caspi, 2000;Rowe, 1999, dalam Pervin & John, 2001). Pendekatan ini berargumen bahwa keturunan memainkan suatu bagian yang penting dalam menentukan kepribadian seseorang (Robbins, 1998).
2. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang membuat seseorang sama dengan orang lain karena berbagai pengalaman yang dialaminya. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, kelas social, keluarga, teman sebaya, situasi. Diantara faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepribadian adalah pengalaman individu sebagai hasil dari budaya tertentu. Masing-masing budaya mempunyai aturan dan pola sangsi sendiri dari perilaku yang dipelajari, ritual dan kepercayaan. Hal ini berarti masing-masing anggota dari suatu budaya akan mempunyai karakteristik kepribadian tertentu yang umum (Pervin & John, 2001). Faktor lain yaitu faktor kelas sosial membantu menentukan status individu, peran yang mereka mainkan, tugas yang diembannya dan hak istimewa yang dimiliki. Faktor ini mempengaruhi bagaimana individu melihat dirinya dan bagaimana mereka mempersepsi anggota dari kelas sosial lain (Pervin & John, 2001). Salah satu faktor lingkungan yang paling penting adalah pengaruh keluarga (Collins et al., 2000; Halvelson & Wampler, 1997; Maccoby, 2000 dalam Pervin & John, 2001). Tuntutan yang berbeda dari situasi yang berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang (Robbins, 1998).
1.2 Pendekatan dalam Psikologi
1.2.1 Pendekatan Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
a. Id yang bersifat insting/ rasa : Eros(konstruktif) dan Fhanatos (destruktif)
b. Ego yang berdasarkan prinsip realitas, akal
c. Super Ego yang bertindak berdasarkan nilai-nilai sosial atau nila-nilai kesadaran.
1.2.2 Behaviorisme
Pendekatan ini menyatakan prilaku seorang individu di bentuk dari lingkungan sekitarnya, yaitu dari lingkungan keluarga hingga di lingkungan bermasyarakat. Contohnya adalah percobaan yang dilakukan oleh J.B. Watson tentang percobaan terhadap seorang bayi pada umur 8 bulan. Awalnya bayi sangat suka dengan semua yang berbahan lembut dan berwarna putih. Pada percobaan ini, ketika bayi ingin mendekati hal-hal yang disukainya tersebut, bayi diperdengarkan suara bantingan yang sangat kuat, begitu seterusnya. Karena percobaan ini, si bayi jadi phobia terhadap hal-hal diatas yang berwarna putih dan bertekstur lembut.
1.2.3 Humanistik
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
Pendekatan Fenomenologis terhadap kepribadian mencakup teori-teori yang disebut
“humanistik” (karena teori-teori ini memfokuskan diri pada kualitas yang membedakan manusia dengan hewan, yaitu pengarahan diri dan kebebasan memilih) dan teori-teori “self” (karena teori-teori ini menyngkut pengalaman internal dan subjektif yang merupakan makna keberadaan seseorang).
Teori Humanistik atau Aktualisasi Diri, menurut Abraham Maslow bahwa humanistik adalah studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi pondasi bagi ilmu psikologi yang lebih semesta, dan ia menyatakan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon, tetapi pencari makna kehidupan. Kemudian Maslow memulai penyelidikan terhadap orang-orang yang ia anggap self actualizer (seseorang yang memanfaatkan potensi diri dengan sangat luar biasa), seperti Albert Enstein, Jane Adams, Abraham Lincoln, William James, dan Eleanor Roosevelt.
1.2.4 Trait
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck. Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Pendekatan trait terhadap kepribadian yaitu berusaha memisahkan sifat dasar individu yang mengarahkan prilaku. Pendekatan ini memusatkan diri pada kepribadian umum dan lebih banyak berkaitan dengan pemerian kepribadian dan prediksi prilaku daripada dengan perkembangan kepribadian.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
1. Trait berasumsi bahwa orang mempunyai perbedaan beberapa dimensi atau skala kepribadian, yang masing-masing menunjukkan suatu trait.
2. Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain
3. Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
4. Trait konsisten dari situasi ke situasi
5. Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena: ada proses adaptif adanya perbedaan kekuatan, dan kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Trait sering dikatakan ”sifat”, sifat adalah tendens determinasi predisposisi dan diberinya definisi demikian: ”Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama, (Allport, 1951).
Trait mengacu pada karakteristik yang membedakan orang yang satu dengan orang yang lain secara konsisten dan relatif permanen. Ketika secara tidak formal kita menggambarkan diri kita sendiri atau orang lain dengan kata sifat seperti ”agresif”, ”cermat”, ”cerdas”, atau ”cemas”, kita menggunakan istilah-istilah trait. Kita menyimpulkan trait dari prilaku, kita tidak dapat membalik dan menggunakannya sebagai penjelasan prilaku. Jadi kita dapat menilai seseorang berdasarkan skala intelegensi, stabilitas, emosi, agresivitas, dan sebagainya (Rita and Richard Atkinson, 1993).
Para pakar psikologi yang bekerja dalam bidang teori trait berusaha:
1. Menemukan cara untuk mengukur trait.
a. Analisis Faktor
Merupakan teknik statistik yang rumit untuk mereduksi jumlah ukuran menjadi beberapa dimensi bebas.Dengan analisis factor kemudian Raymond Cattell mengidentifikasi 16 trait kepribadian dasar, Sixteen Personality Factor Questionnaire (16 PF) Mengumpulkan data melalui kuesioner, tes kepribadian, dan observsi prilaku dalam situasi kehidupan nyata selama lebih dari 3 dekade, pertanyaanya diubuat yang menggambarkan setiap trait, dan jawabannya dibuat agar mudah di skor. Ada 16 faktor yang menurutnya merupakan trait dasar yang mendasari kepribadian.
Contoh oleh raymond Cattell : Skor test rata-rata pada sekelompok pilot penerbang, sekelompok seniman dan sekelompok penulis, dengan membandingkan profil kepribadiannya.
Berikut diatas ini adalah gambar profil kepribadian ketiga kelompok tersebut. Dijelaskan bahwa semakin garis yang ada pada gambar ke atas, maka sifatnya makin mendekati sifat yang sebaliknya, misalkan pada penulis poin ke-J, garis kuning lebih condong ke atas, hal ini menerangkan bahwa seorang penulis tidak praktikal, namun imajinatif.
b. Minnesota Multiphasic Personality Inventori MMPI
Tersusun dari 550 pertanyaan tentang sikap, reaksi, emosional, gejala fisik, psikologis, dan pengalaman masa lalu) yang dijawab dengan ”benar”, salah”, ”tidak dapat dikatakan”.
Jenis-jenis Traits yang ada berhubungan dengan istilah temperamen dalam teori yang dikemukakan oleh Julius Bahnsen, yaitu Teori Bhansen. Tipologi J.Bahnsen adalah salah satu cara pendekatan menurut Julius Bahnsen. Menurutnya kepribadian seseorang ditentukan oleh tiga macam keadaan kejiwaan yaitu :
Temperamen dan Kemauan, posodynie, dan daya Susila
Temperamen ditentukan oleh 4 faktor, yaitu :
1. Spontanity nampak jika orang menentukan sikap terlepas dari pengaruh orang lain; jadi sikap atauperilaku tersebut benar-benar berpangkal pada jiwanya sendiri. Ada dua macam spontanitas, yaitu: Kuat dan lemah
2. Reseptivity adalah cara bagaimana orang menerima kesan, apakah cepat atau lambat. Juga disini secara teori terdapat dua macam reseptivitas, yaitu : Cepat dan lambat
3. Impresionability yaitu mendalam atau tidaknya pengaruh suatu keadaan terhadap jiwa. Secara teori dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Mendalam dan Tidak mendalam
4. Reaktivity adalah lama atau tidaknya suatu kesan mempengaruhi jiwa. Dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Lama dan tidak lama
Kemudian Imanuel Kant menganggap temprament sebagai corak kepekaan dan caracter corak fikiran.
Temprament mengandung 2 aspek :
1. Aspek fisiologis: konstruksi tubuh
2. Aspek psikologis: kecendrungan kejiwaan oleh komposisi darah.
a. Tempramen perasaan: Sanguinis dan Melancholis.
b.Tempramen kegiatan: Choleris dan Phlegmatis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar